Banner Honda

Dieng Jadi Wisata Berbasis Indikasi Geografis Pertama di Indonesia, Ada Apa Saja?

Dieng Jadi Wisata Berbasis Indikasi Geografis Pertama di Indonesia, Ada Apa Saja?

Kegiatan IP Talks & Coffee dalam rangkaian Festival Kopi Dieng pada Dieng Culture Festival (DCF) 2026.-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-

BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID - Wisatawan yang datang ke Dieng nantinya tidak hanya diajak membeli kopi, carica, atau purwaceng. Mereka akan diajak mengenal asal-usul produk, bertemu petani, melihat proses produksi hingga merasakan kehidupan dan alam tempat produk tersebut lahir.

Konsep itu mulai diuji di Dataran Tinggi Dieng, Kabupaten Banjarnegara, yang ditetapkan sebagai pilot project nasional pertama Geographical Indication Tourism (GI Tourism) atau pariwisata berbasis Indikasi Geografis.

Program yang digagas Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI) tersebut, bertujuan mengubah produk berindikasi geografis dari sekadar komoditas menjadi bagian dari pengalaman wisata.

Ketua Tim Kerja Pemanfaatan, Utilisasi dan Pengawasan Indikasi Geografis DJKI, Irma Mariana mengatakan, pelindungan Indikasi Geografis tidak cukup hanya melalui sertifikat atau pengakuan hukum.

BACA JUGA:Langit Dieng Dipenuhi Ribuan Lampion, Membawa Doa dan Harapan Wisatawan

“Ini merupakan upaya mengubah sebuah produk indikasi geografis menjadi pengalaman yang pada akhirnya akan memberikan dampak ekonomi pada masyarakat lokalnya,” kata Irma.

Melalui GI Tourism, wisatawan dapat mengikuti perjalanan produk sejak dari wilayah asalnya, mulai melihat kebun kopi, mengenal petani, menyaksikan proses produksi hingga mencicipi hasilnya.

“Masyarakat datang ke Dieng, ada experience, bertemu petani, membeli produk, maka mereka akan memiliki story atau cerita terhadap produk tersebut,” ujarnya.

Dieng dinilai memiliki modal kuat karena memiliki tiga produk berstatus Indikasi Geografis, yakni Kopi Arabika Pegunungan Dieng Banjarnegara, Carica Dieng dan Purwaceng Dieng.

BACA JUGA:Sebelum Rambut Gimbal Dicukur, 13 Anak di Dieng Punya Permintaan Tak Biasa

Karakter produk tersebut dipengaruhi kondisi geografis Dieng serta pengetahuan masyarakat yang diwariskan turun-temurun.

DJKI mendorong ketiga produk tersebut dikembangkan sebagai satu ekosistem pariwisata. Perlindungan kekayaan intelektual juga diarahkan pada karya dan aktivitas yang mendukung identitas kawasan, termasuk event budaya, seni pertunjukan dan gastronomi lokal.

Bupati Banjarnegara, Amalia Desiana, menyambut penetapan Dieng sebagai lokasi pertama GI Tourism nasional. Menurutnya, program tersebut membuka peluang agar potensi lokal tidak hanya dikenal sebagai produk, tetapi juga memiliki cerita yang bisa dinikmati wisatawan.

“Banjarnegara yang tadinya tidak masuk dalam daftar, pada akhirnya terpilih menjadi yang pertama untuk GI Tourism. Ini semua dituntun oleh niat bersama untuk memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Amalia, Senin (31/8/2026).

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: