100 Pusaka Dipamerkan di Banjarnegara, Ada Keris hingga Pedang dari Berbagai Era
Paguyuban Pelestari Tosan Aji menunjukkan keris pada pengunjung.-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-
BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID - Keris masih kerap dikaitkan dengan hal-hal mistis. Stigma tersebut dinilai membuat nilai sejarah, filosofi, dan kebudayaan yang terkandung dalam keris justru terabaikan.
Persoalan itu menjadi salah satu yang dibahas Paguyuban Pelestari Tosan Aji (Puri Taji) Kudi Mas Banjarnegara, dalam Pameran dan Bincang Budaya bertajuk Keris Menceritakan Perjalanan Sejarah Bangsa, Senin (31/8/2026) di Balai Kelurahan Karangtengah.
Ketua Kudi Mas Banjarnegara, Sagiyo mengatakan, kegiatan tersebut digelar untuk memberikan pemahaman yang lebih utuh mengenai keris, sekaligus meluruskan pandangan masyarakat yang masih mengidentikkan pusaka dengan dunia mistis.
“Kami ingin berbagi pengetahuan nilai historis dan budaya. Utamanya, pesan simbolik dalam pamor dan ricikan keris sebagai warisan budaya tak benda pada masyarakat luas,” kata Sagiyo.
BACA JUGA:Workshop Pembuatan Keris Meriahkan Pameran Cagar Budaya Cilacap
Menurutnya, keris tidak semata-mata benda pusaka untuk disimpan atau dikoleksi. Di dalam bentuk, pamor, dan ricikannya terdapat simbol serta pesan budaya yang berkaitan dengan perjalanan masyarakat Nusantara.
Kudi Mas juga ingin menjadikan kegiatan tersebut sebagai ruang untuk mengenalkan nilai-nilai budaya pada generasi muda.
Kesadaran terhadap sejarah dinilai penting, agar pewarisan kebudayaan tidak berhenti pada generasi yang lebih tua.
Bincang budaya tersebut diikuti 50 peserta dari berbagai kalangan. Mereka berasal dari Permadani, Bambu Aji, budayawan, seniman, pemerhati sejarah, mahasiswa KKN, dan masyarakat sekitar.
BACA JUGA:Festival Ebeg Banjarnegara Dorong Pelestarian Budaya dan Regenerasi Seniman
Narasumber senior Kudi Mas, Ki Suprapto, menyampaikan tosan aji dari berbagai sisi. Tidak hanya sejarah dan fisik keris, peserta juga diajak memahami aspek filosofi, etika, hingga tata cara memperlakukan pusaka.
“Kita edukasi tentang tosan aji terutama keris, antara lain tentang pamor, sejarah, perkiraan era pembuatan, cara memegang, hingga cara menyampirkan keris yang benar sesuai pakem dan tata krama,” papar Ki Suprapto.
Peserta dari Paguyuban Permadani, Heru Wiharso, prihatin dengan stigma tersebut. Menurutnya, keris seharusnya dipahami sebagai bagian dari warisan budaya yang memiliki nilai sejarah dan filosofi.
“Keris sering jadi stigma miring yang dilekatkan dengan hal-hal mistis, padahal keris adalah warisan budaya. Di sinilah diperlukan edukasi terutama bagi Gen Z dan masyarakat awam agar paham cara pandang dan nilai keris sebenarnya,” tutur Heru.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
