Pocong hingga Genderuwo Gentayangan di Jalan, Malah Bikin Warga Purwanegara Ngakak
Gerak jalan gayeng horror Desa Purwanegara menjadi perhatian masyarakat dengan kostum horor namun menghibur.-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-
BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID - Pocong, tuyul hingga genderuwo mendadak memenuhi jalanan Desa Purwanegara, Kecamatan Purwanegara, Banjarnegara. Bukan untuk menakut-nakuti warga, para “hantu” itu justru menjadi tontonan dalam Gerak Jalan Gayeng Horor untuk memeriahkan HUT ke-81 Kemerdekaan RI.
Kegiatan yang digelar malam hari itu langsung menyedot perhatian warga. Sejak sekitar pukul 19.00 WIB, masyarakat sudah memadati pinggir jalan meski peserta baru diberangkatkan sekitar pukul 20.00 WIB.
Begitu rombongan peserta mulai melintas, suasana desa berubah ramai. Warga berdesakan di sejumlah titik, sebagian mengeluarkan telepon seluler untuk merekam peserta yang tampil dengan riasan wajah dan kostum menyeramkan.
Namun, kesan horor hanya tampak dari penampilan. Gerakan peserta, yel-yel dan aksi spontan justru membuat warga tertawa.
Irma, salah seorang warga yang menyaksikan parade, mengatakan Gerak Jalan Gayeng Horor menjadi salah satu acara yang paling ditunggu masyarakat.
“Kegiatan seperti ini memang paling ditunggu warga. Apalagi Jalan Gayeng Horor yang digelar dua tahun sekali. Meski kostumnya menyeramkan, gerakan dan yel-yelnya justru lucu, unik, dan bikin tertawa,” kata Irma, Selasa (25/8/2026).
Peserta merupakan perwakilan dari setiap RT. Mereka tidak sekadar berjalan mengikuti rute, tetapi juga berlomba menunjukkan kreativitas kelompok melalui kostum, karakter, gerakan dan yel-yel.
Karakter yang ditampilkan pun beragam. Pocong, tuyul, genderuwo dan tokoh-tokoh menyeramkan lainnya muncul dengan gaya masing-masing.
Kepala Desa Purwanegara, Renda Sabita Noris, mengatakan konsep tersebut sengaja dibuat berbeda dari gerak jalan pada umumnya. Selain digelar malam hari, peserta diberi ruang seluas-luasnya untuk berkreasi.
Namun, menurut Renda, konsep “hantu” yang digunakan dalam kegiatan itu juga memiliki pesan tersendiri.
“Dalam diri setiap manusia itu pasti memiliki hawa nafsu yang merupakan perbuatan setan. Kami ingin setan-setan dalam diri manusia itu keluar dan mendapatkan ruang, sehingga harapannya warga kami menjadi lebih tenang dan tidak mudah dikendalikan oleh setan yang ada pada setiap manusia,” ujarnya.
Gerak Jalan Gayeng Horor juga menjadi ajang bagi warga untuk berkumpul dan bekerja sama. Persiapan dilakukan masing-masing RT, mulai dari membuat kostum, menentukan karakter hingga menyiapkan penampilan.
Renda mengatakan semangat kebersamaan tersebut menjadi bagian penting dari perayaan kemerdekaan di desanya.
“Momen hari kemerdekaan inilah kami ingin mengajak dan mengingatkan kembali kepada semua untuk tetap bersatu, bergotong royong dalam membangun desa, dan menjaga kesatuan bangsa,” katanya.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
