Banner v.2

Lokomotif Tua PG Klampok Banjarnegara Jadi Sorotan Webinar Internasional, Kini Dirawat di Belanda

Lokomotif Tua PG Klampok Banjarnegara Jadi Sorotan Webinar Internasional, Kini Dirawat di Belanda

Materi webinar terkait lokomotif yang berusia satu abad dan pernah beroperasi di Banjarnegara.-Gerrard De Graaf untuk Radarmas-

BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID – Seabad setelah mengangkut tebu di jalur sempit Pabrik Gula (PG) Klampok, lokomotif tua Soemberhardjo No 09 kembali menjadi perhatian dalam webinar internasional yang mempertemukan pegiat sejarah dari Indonesia dan Belanda, Rabu (1/7/2026).

Komunitas Sejarah Perkeretaapian Indonesia (KSPI) menggelar webinar bertajuk 100 Year D&B Locomotive of PG Soemberhardjo yang mengulas perjalanan lokomotif berusia 100 tahun tersebut, sebelum direstorasi dan dirawat di The Nederlands Smalspoor Museum, Belanda.

Peneliti sejarah perkeretaapian asal Belanda, Gerrard de Graaf menjelaskan, lokomotif itu pernah menjadi bagian penting operasional PG Klampok. Menurutnya, proses penyelamatan dua lokomotif ke Belanda memerlukan birokrasi panjang serta biaya yang besar.

"Dua lokomotif yang kami bawa ke Belanda harus melalui proses birokrasi yang panjang. Selain itu kami juga harus membayar sekitar 5.000 dolar AS kepada Kementerian BUMN, belum termasuk biaya pengangkatan dan pengiriman yang sangat besar," ujarnya.

BACA JUGA:Dipo Lokomotif Purwokerto: Jantung Operasional Lokomotif di Daop 5

Dia berharap, pelestarian aset sejarah Indonesia dapat dilakukan melalui kerja sama yang lebih terbuka antara Indonesia dan Belanda, termasuk pertukaran informasi maupun artefak sejarah.

Gerrard juga menyatakan kesediaannya membantu membuka akses dokumen dan arsip sejarah terkait industri gula serta jaringan perkeretaapian di Klampok.

Dukungan itu dinilai penting karena Pemerintah Kabupaten Banjarnegara tengah mengembangkan kawasan bekas PG Klampok sebagai Kawasan Cagar Budaya.

Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Banjarnegara, Heni Purwono, mengapresiasi upaya pelestarian yang dilakukan komunitas di Belanda. Menurutnya, kisah lokomotif tersebut menjadi pengingat bahwa masih banyak warisan sejarah Indonesia yang belum mendapat perhatian memadai.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: