50 Penulis Terpilih Siap Hidupkan Legenda Banjarnegara Lewat Cerpen
Disarpus saat menggelar Bimbingan Teknis (Bimtek) Penulisan Berbasis Konten Budaya Lokal tahap pertama di Aula Niscala Perpusda Banjarnegara.-Pujud Andriastanto/Radar Banyumas-
BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID – Upaya menghidupkan kembali cerita-cerita lokal, kini ditempuh dengan cara berbeda. Dinas Arsip dan Perpustakaan (Disarpus) Banjarnegara, tengah menyiapkan buku bertajuk Banjarnegara Tanah Legenda, yang kali ini tidak lagi didominasi tulisan nonfiksi, melainkan kumpulan cerpen berbasis kisah legenda daerah.
Program ini menjadi kelanjutan dari buku sebelumnya, Banjarnegara Surga Cerita. Bedanya, pendekatan kali ini lebih menekankan kreativitas penulis dalam mengolah cerita rakyat menjadi karya fiksi yang lebih hidup.
Sebagai langkah awal, Disarpus Banjarnegara menggelar bimbingan teknis penulisan yang diikuti 50 peserta terpilih. Mereka sebelumnya telah melewati seleksi dengan mengirimkan draft cerpen.
Kepala Bidang Perpustakaan Disarpus Banjarnegara, Masfufatun Juni mengatakan, jumlah peserta tahun ini lebih sedikit dibanding sebelumnya. Namun, fokus kini diarahkan pada kualitas karya.
BACA JUGA:Dari Desa, Banjarnegara Bangun Kesadaran Lingkungan Lewat Ruang Literasi Konservasi
“Pesertanya memang lebih terbatas, tapi kami ingin hasil tulisannya lebih matang dan kuat dari sisi cerita,” ujarnya, Rabu (8/4/2026).
Kepala Disarpus Banjarnegara, Arief Rahman, melihat program ini bukan sekadar kegiatan literasi biasa. Menurutnya, penulisan berbasis budaya lokal bisa menjadi cara menjaga identitas daerah sekaligus membuka peluang baru bagi penulis.
“Ini bukan hanya soal menulis, tapi bagaimana kita mengangkat potensi lokal agar tetap hidup dan dikenal,” katanya.
Dalam prosesnya, peserta dibekali materi dari sejumlah narasumber, salah satunya Ketua Tim Ahli Cagar Budaya Banjarnegara, Heni Purwono. Dia menilai, cerita legenda memiliki potensi besar untuk mendukung sektor pariwisata.
BACA JUGA:Desa Bedana Dorong Ekonomi Berbasis Literasi Lewat Gerakan Laksana Aksara
“Banyak tempat jadi terkenal karena ceritanya. Kalau legenda Banjarnegara diangkat dengan baik, dampaknya bisa ke mana-mana, termasuk wisata,” ujarnya.
Dari sisi teknis penulisan, guru Bahasa Indonesia SMPN 1 Karangkobar, Sutini, mendorong peserta untuk berani mengeksplorasi imajinasi tanpa meninggalkan akar cerita.
“Legenda lokal itu kaya, tapi belum banyak digarap. Di situlah ruang kreatif penulis terbuka lebar,” katanya.
Sementara pegiat literasi Rumah Baca Purnama, Indra Hari Purnama, mengingatkan bahwa menulis bukan sekadar aktivitas sesaat, melainkan jejak yang bisa bertahan lama.
Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News
Sumber:
