Banner v.2

Petani Banjarnegara Lawan Anjloknya Harga Singkong, Olah Singkong Jadi Mocaf

Petani Banjarnegara Lawan Anjloknya Harga Singkong, Olah Singkong Jadi Mocaf

Ketua Kelompok Tani Sumber Rezeki Desa Petir mendampingi petani mengolah singkong menjadi mocaf.-Rumah Sejati untuk Radarmas-

BANJARNEGARA, RADARBANYUMAS.CO.ID - Anjloknya harga singkong membuat petani di Desa Petir, Kecamatan Purwanegoro, Banjarnegara, kian tertekan.

Di wilayah dengan karakter lahan kering dan minim sumber air itu, singkong menjadi satu-satunya komoditas yang bisa diandalkan petani. Ironisnya, saat panen melimpah, nilai jual justru jatuh jauh di bawah biaya produksi.

Ketua Kelompok Tani Sumber Rezeki Desa Petir, Sugito mengatakan, pada musim panen 2025, produksi singkong di wilayahnya bisa mencapai sekira 50 ton per hari. Namun, harga di tingkat petani hanya bertahan di kisaran Rp 540 per kilogram (kg).

“Setelah dipotong biaya cabut dan angkut ke pengepul, bersihnya petani tinggal sekira Rp 240 per kg,” kata Sugito, Selasa (3/2/2026).

BACA JUGA:Pringsewu Jajaki Kerja Sama Mocaf, Banjarnegara Siap Kembangkan Hilirisasi Pertanian

Dengan harga tersebut, daya beli petani kian merosot. Sugito menyebut, petani harus menjual sekira 70 kg singkong hanya untuk membeli satu kg beras.

Menurut Sugito, komoditas lain seperti padi tidak memungkinkan ditanam. Jagung dan kacang tanah menjadi tanaman selingan dengan hasil tidak selalu menjanjikan. Kondisi ini membuat singkong menjadi tumpuan utama, meski nilai jualnya rendah.

“Kalau tanah di Desa Petir ini memang tanah kering. Musim kemarau tidak bisa ditanami apa-apa selain singkong,” ujarnya.

Berangkat dari persoalan tersebut, Sugito bersama sejumlah petani, dengan dukungan DPD Tani Merdeka Banjarnegara, mulai mengolah singkong menjadi modified cassava flour (mocaf), tepung singkong hasil fermentasi yang dapat digunakan sebagai pengganti terigu.

BACA JUGA:Bupati Pringsewu Belajar Olah Singkong Jadi Mocaf ke Banjarnegara

Melalui pengolahan mocaf, Sugito kini mampu membeli singkong dari petani seharga Rp 700 per kg, lebih tinggi dibandingkan harga jual ke pengepul.

Dia mengakui, tantangan utama pengembangan mocaf adalah rendahnya pemahaman masyarakat. Produk ini kerap dianggap lebih mahal dibandingkan tepung terigu, meski secara harga bisa disetarakan.

“Padahal kalau dihitung, mocaf bisa dijual setara terigu. Apalagi bahan bakunya dekat, ongkos produksi bisa ditekan,” jelasnya.

Meski masih berskala kecil, pemasaran mocaf mulai berkembang. Produk ini telah dikirim ke wilayah Wonosobo dengan volume mencapai 1,4 ton, seiring meningkatnya minat masyarakat terhadap pangan bebas gluten.

Cek Berita dan Artikel lainnya di Google News

Sumber: